6. 2 desain moti 4

HENDI YAIYI KUIN

PROFILE

PEMAKAMAN KAMPUNG

7. 3 Desain motif 5

PROFILE MAKAM

Profil

RITUAL UPACARA ADAT KEMATIAN MENURUT SUKU DAYAK BENUAQ

A. ASAL MULA SUKU DAYAK BENUAQ

Bahwa pada mulanya belum ada manusia (Suku Benuaq ) . pada umumnya daerah pedalaman hulu sungai Kalimantan Timur belum ada manusia .menurut cerita yang dikumpulkan , bahwa daerah pedalaman masih kosong,penuh dihuni oleh beberapa binatang buas, binatang memamah biak, kera, ular, dan burung-burung beraneka warna.tumbuh-tumbuhan mulai dari rumput,semak, perdu, sampai pohon raksasa,yaitu sebatang pohon yang sangat besar, yang diberi nama Putang Kayun Naing.

Tersebutlah cerita pada suatu ketika dengan tiba-tiba datang manusia raksasa, yaitu manusia yang besar , tinggi, kuat dan sakti yang bernama AYUS UMAQ SOLEN . Menurut cerita Ayus ini bersaudara dengan SILUQ INEQ LINTAI (Perempuan ) dan INTONG UMAQ TULIH (Pria). Kamudian datanglah dari LAHTALA  ( Yang Maha Kuasa ) yaitu Dewa tertinggi bagi Orang Benuaq

B. ACARA KEMATIAN

Pada dasarnya, Upacara Kematian ini dilaksanakan agar Arwah orang yang telah meninggal bisa sampai ke Alam Baka yang disebut Gunung Lumut  ( Saikng Lumut ) dan hidup tentram ditempat tersebut tanpa mengganggu anak-cucu dan para keluarga yang ditinggalkan di dunia. Roh orang yang telah meninggal haruslah diantar ke Gunung Lumut  yaitu dengan cara dilakukannya Upacara pengantaran arwah ke gunung Lumut oleh Pengewara.

Upacara adat kematian dilaksanakan, dimaksudkan untuk membuka jalan ke Gunung Lumut  agar para roh yang telah meninggal tidak tersesat. Suasana religius menguasai alam pikiran masyarakat Suku Dayak Benuaq. Kepercayaan akan kebahagiaan bagi Suku Dayak Benuaq di Puncak Gunung Lumut menjadi kebahagiaan abadi  dan kepercayaan pada alam semesta serta hubungan manusia dengan roh-roh inilah yang membawa Suku Dayak Benuaq mengadakan Upacara Adat Kematian.

Menurut kepercayaan suku Dayak Benuaq, alam semesta terdiri dari empat negeri/kerajaan  yang dihuni oleh Para Dewa  yang memiliki keterpautan bagi kelangsungan hidup penghuninya, yaitu :

  1. Negeri Atas Langit yang disebut Langit Walo Lapih ( Langit Delapan Lapis ), diPercayai sebagai tempat tinggalnya Sang Pencipta Nayuq Senieng, penghuni setiap lapis langit dipersonifikasikan sebagai Burung Enggang Jantan yang menjadi lambang Keperkasaan.
  2. Negeri Bawah Tanah yang disebut Bengkolokng Tana atau Tanyukng Ruakng yang dihuni oleh para Dewa Tonooy, Tangaai Tamui yang menguasai Tanah, Hutan, Bukit, Gunung dan Sungai, Dewa ini diapresiasikan sebagai Naga Betina yang merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran, lambang Naga ini sering dipasang di ujung Selokng, Tempelaaq dan Kererekng yang menandakan bahwa para Arwah sudah tenang di alam baka.
  3. Negeri manusia atau Negeri Senarikng Tana Lino / Datai Lino yang dihuni oleh manusia yang hidup dengan berbagai macam perilaku dan memiliki korelasi dengan penghuni Negeri lain.
  4. Negeri Arwah atau Negeri Liau, Negeri ini sering disebut Teluyetn Tangkir Langit, Benuang Tangkir Layakng, penghuni Negeri ini adalah para Arwah yang lazim disebut Liau Kelelungan ( Roh dan Jasad ).

Menurut keyakinan Suku Dayak Benuaq, Liau merupakan Roh yang ada dilangit dan Kelelungan adalah Roh yang berada di Jasad tubuh ( Kepala), Liau Kelelungan (Roh)  yang belum dilakukan upacara Adat kematian hanya berdiam di langit pertama, sedangkan Liau Kelelungan yang telah dilakukan upacara Adat kematian mendiami langit ke Tujuh yaitu Teluyetn Tangkir Langit Deroi Olo.

Berdasarkan pemahaman dan keyakinan Suku Dayak Benuaq  terhadap empat Negeri tersebut diatas, Suku Dayak Benuaq mempercayai bahwa Alam Semesta memiliki tata tertib yang mengatur keberlangsungan interaksi antara manusia dengan penghuni di Negeri lain, maka Hukum Alam , etika social, tradisi dan  komunitas diyakini merupakan metafora actual tata tertib yang baku dari alam semesta, maka oleh sebab itu orang Dayak menganggap bahwa dalam siklus kehidupan, kematian bukanlah akhir dari kehidupan manusia, melainkan Permulaan perjalanan kehidupan baru menuju ke negeri abadi yakni negeri langit ke Tujuh.

Dalam Ritual upacara Adat kematian, orang Dayak Benuaq meyakini ada 4 kategori upacara Adat kematian :  1. Parepm Api, 2. Kenyeu,  3. Ngelangkakng dan 4. Kuangkei.  Prosesi keempat upacara Adat kematian, dipimpin oleh sang Pengewara yang berperan sebagai Mediator Relasi antara manusia dengan para Arwah (Liau Kelelungan) dan para Dewa di Negeri Arwah, Negeri Atas Langit dan Negeri Bawah Tanah. Ke – 4 kategori upacara adat kematian ini adalah :

1. PAREPM API

Perepm Api adalah upacara adat yang dilaksanakan bagi orang yang baru meninggal dengan perhitungan adalah bila yang meninggal merupakan perempuan, maka upacara ini dilaksanakan selama lima hari, tetapi jika yang meninggal adalah laki-laki maka upacara ini dilaksanakan selama enam hari, perhitungan ini biasanya berlaku atau dihitung sejak hari pertama orang yang meninggal, selama acara ini berlangsung, mayat yang sudah dimasukkan kedalam peti mati (Lungun) boleh dilakukan penguburan, sebelum upacara selesai, jika kondisi mayat sudah tidak memungkinkan/Rusak dan berbau, tapi jika mayat masih baik dan tidak mengeluarkan Bau yang tidak sedap maka uparara pemakaman dilakukan pada hari ke -6 untuk Perempuan dan hari ke-7 untuk laki-laki. Terdapat dua  tata – cara penguburan dalam acara Parepm Api, yakni :

  1. Menggunakan Garei, garei yaitu bangunan kuburan rumah kecil dimana didalamnya ditempatkan sebuah peti Selokng/Tinaq yang berisi Peti Jenasah ( Lungun ), pada prinsipnya Selokng dan Tinaq sebenarnya sama, Selokng digunakan apabila yang meninggal Laki-laki dan Tinaq digunakan apabila yang meninggal Perempuan, Selokng dibuat seperti Peti dan dibubuhi dengan ornament ukiran khas Dayak Benuaq di setiap sisi – sisinya, sedangkan Tinaq dibuat mirip seperti lungun dan penutupnya dibuat seperti bubungan rumah, Lungun dimasukan kedalam Selokng/Tinaq, cara ini dipakai bila Parepm Api dilanjutkan dengan Kenyeu.

 Ngelubekng yaitu peti jenasah dimasukan kedalam tanah yang telah dibuat keramba dari kayu ulin, kemudian ditutup dengan papan, ditimbun dangan tanah lalu dipasang nisan ( Mesetn )

2. KENYEU

Upacara Adat Kenyeu berlangsung selama Sembilan hari dan Kenyeu merupakan acara kelanjutan dari upacara Adat Parepm Api yang disebut Nengkaaq atau menambah waktu. Hakekatnya upacara Adat Kenyeu adalah menyempurnakan perjalanan arwah agar betul-betul sampai ke surga    (Teluyetn Tangkir Langit Deroi Olo ). Acara Adat Kenyeu bukanlah kewajiban karena hanya berlaku bagi keluarga yang mampu saja.

3. NGELANGKANG

Ngelangkakng berasal dari kata kelangkakng atau anyaman dari bambu untuk menaruh makanan para Arwah atau Liau. Ngelangkakng berarti membuat Kelangkakng, dalam arti memberi makanan kepada para arwah. Menurut kebiasaan Suku Dayak Benuaq, sebelum diadakannya upacara Adat Kuangkai yang merupakan upacara adat kematian yang paling besar dan terakhir, Suku Dayak Benuaq biasanya memberi makanan untuk  para Arwah dengan cara sederhana yaitu Ngekangkakng, dalam pelaksanaan upacara Adat Ngelangkakng hanya memakan waktu sehari saja dan sebagai Pasilitator upacara haruslah ada seorang Tukang Wara atau Pengewara. Dalam ritual ini Pengewara membacakan mantra-mantra yang pada intinya berisi undangan/panggilan kepada para Arwah untuk memakan makanan yang telah tersedia  dalam kelangkakng atau yang disebut petunuq okatn Liau. Waktu memberi makana dilakukan  pada pagi hari, siang hari, dan sore hari dengan cara memasukkan semua jenis makanan kedalam anyaman bambu yang disebut kelangkang ( Mopoy) .

Setelah acara dinyatakan selesai pada sore hari, Keluarga mengantar semua makanan Arwah yang ada dalam Kelangkakng ke Kuburan masing-masing, dan menurut kepercayaan walaupun hanya sesekali dan jarang memberi makanan kepada para Arwah, akan tetapi makanan itu akan membuat para Arwah di Lumut menjadi Berlimpah ruah dan tidak mengalami kelaparan, sehingga di Yakini para anak cucu tidak akan di ganggu ( mengalami Sakit ).

4. KUANGKEI

Kuangkei adalah salah satu Upacara Adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Benuaq yang tinggal di Pedalaman Kalimantan Timur. Kuangkei merupakan puncak dari upacara Adat kematian khas suku Dayak Benuaq. Kuangkei yang berarti Adat Bangkei Lama ( Bangkei Nahaaq ) dilaksanakan Empat Belas  ( 2X7 ) hari untuk orang yang biasa ( Merentikaaq ) dan Dua Puluh Satu ( 3 X 7 ) hari untuk  Bangsawan ( Mantiiq), merupakan Prosesi  untuk memindahkan Tulang-Belulang dari Pemakaman terdahulu ke tempat Pemakaman yang baru yang lebih baik. Biasanya Tulang, Kelelungan, dibersihkan dan di Bungkus dengan Kain yang Bersih lalu di masukkan ke dalam Tempelaaq.

Kuangkei berasal dari kata ke dan angkeiKe berarti ‘melakukan’ atau ‘melaksanakan’ dan angkei berarti ‘bangkai’, yaitu manusia atau binatang yang sudah tidak bernyawa. Dengan demikian, Kuangkei dapat diartikan secara harafiah sebagai ‘buang bangkai’ yang bermakna melepaskan diri dari segala Kedukaan dan mengakhiri masa Berkabung.

Tujuan utama dari upacara Adat Kuangkei adalah untuk menghormati dan memuliakan roh Para Leluhur yang sudah meninggal. Roh-roh ini diharapkan dapat memperoleh kebahagiaan dan tempat yang lebih baik di alam Arwah (di Gunung Lumut ), sehingga bila dibutuhkan dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan ( La Tala ). Suku Dayak Benuaq percaya bahwa para Arwah yang sudah mati tidak ubahnya orang yang masih hidup, mereka perlu makan, perlu tempat yang baik, dan memerlukan hiburan. Sehingga upacara Adat Kuangkei yang dilakukan oleh anggota keluarga yang masih hidup ditujukan untuk memberi makanan , penghormatan, hiburan, dan tempat yang layak bagi orang yang telah meninggal tersebut.

Suku Dayak Benuaq mengadakan upacara Adat Kuangkei dengan harapan timbal balik, mereka percaya bahwa jika roh para leluhur dan anggota keluarga yang sudah mati dihormati dan diberi makanan, maka kehidupan keluarga yang masih hidup pun akan baik dan jauh dari segala Bencana.

Selama upacara Adat Kuangkei berlangsung suasana Desa tempat penyelenggaraan upacara sangatlah  ramai, banyak orang dari Desa lain berdatangan untuk membantu/ bergotong royong, berdagang, berjudi atau sekadar memeriahkan pesta kematian tersebut. Karena biaya untuk upacara Adat Kuangkei ini relatif mahal, maka upacara ini dapat dilakukan secara kolektif dan bergotong-royong yang mereka sebut Sempeket.  Sebagai tanda ucapan Syukur Keluarga dan Penghormatan Kepada Arwah, Maka pada akhir upacara adat Kuangkei dilakukan Pemotongan Hewan Kerbau yang di ikat dengan Rotan (selampit) di sebuah Belontakng yang terbuat dari kayu ulin .

                 Menurut Adat suku Dayak Benuaq terdapat Tiga Tata Cara Pemakaman dalam upacara Adat Kuangkei yaitu :

  1. Tulang – belulang dimasukan kedalam Gur, Tama Gantukng Atau Rineq kemudian dikubur lagi kedalam tanah .
  2. Tulang – belulang dimasukan kedalam Tempelaaq yang terbuat dari kayu ulin utuh yang diberi lobang dan sekat-sekat kemudian diberi penutup yang sudah diukir, dibagian ujung tutup Tempelaaq dipasang Udog Patung Kepala Naga dan dibagian lain adalah Ekor Naga, bagian samping dari tempelaq dipahat dan diukir sedemikian rupa, untuk tempelaq biasanya mememiliki dua tiang penyangga yang juga di buat ukiran khas Suku Dayak Benuaq.
  3. Tulang – belulang dimasukan kedalam Kererekng, Kererkeng adalah Patung dari Kayu ulin yang didirikan ( Satu Tiang ) kemudian diatasnya ditaruh sebuah guci ( Antaakng ) yang berisi tulang – belulang, penutup antaakng terbuat dari ulin kemudian pada salah satu sisinya dibuat Udoq Kepala dan Ekor Naga.

Setelah selesai upacara penguburan, baik itu ucara Parepm Api, Kenyeu, Ngelangkakng pihak keluarga mengadakan upacara Nulek Labaaq dan dilanjutkan mandi kembang ( Tota Torou ) dan Pesengket, acara ini dilaksanakan  bertujuan untuk menangkal pengaruh buruk dan menyucikan diri dari akibat kematian dan juga memohon berkah dari para Dewa dan Leluhur karena orang meninggal sudah diperlakukan dengan baik.